kabupaten sumenep sumenep adalah nama salah satu kabupaten diujung paling timur pulau madura,
yang konon katanya merupakan kadipaten berpangaruh atas lahirnya kerajaan
majapahit dahulu. berdirinya kabupaten ini tak luput dari peran tokoh zaman
kerajaan yang bijaksana dan pintar yakni “arya wiraraja”.
dalam tulisan kali ini, warta giligenting mencoba mengingatkan akan sejarah
sumenep dilihat dari asal usul nama “sumenep”.
dari kabar yang berkembang di kalangan masyarakat kabupaten sumenep, soal asal
usul nama sumenep masih terdapat perbedaan dalam memaknainya. misalnya kalangan
kelompok terpelajar dan tinggal di sekitar pusat kabupaten sumenep, umumnya
menyebut dengan kata sumenep. sedangkan masyarakat yang tinggal di pedesaan, menyebutnya
dengan kata “songennep”. namun dari sumber pararaton disebutkan kata songennep
dikenal atau lahir lebih awal daripada sebutan sumenep.
pararaton menyebutkan sejumlah bukti antara lain sebutan songennep lebih banyak
dipakai atau dikenal oleh sebagian besar penduduk kabupaten sumenep. kemudian,
pengarang buku sejarah dari madura r. werdisastro menggunakan istilah songennep
dalam bukunya berjudul “babad songennep”. sementara sebutan songennep kurang
populer di masyarakat pedesaan sumenep, (80% dari jumlah penduduk kabupaten
sumenep tinggal di desa).
untuk menyeragamkan penyebutan sumenep, maka pada ada
inisiatif untuk merubah nama songennep menjadi sumenep di zaman penjajahan
belanda. perubahan itu terjadi pada permulaan abad xviii (1705), ketika belanda
memulai peran dalam menentukan politik kekuasaan pemerintahan di madura
termasuk sumenep. perubahan nama songennep menjadi sumenep, antara lain untuk
penyesuaian atau kemudahan dalam pengucapan agar lebih sesuai dengan aksen
belanda. bagi mereka lebih mudah mengucapkan sumenep daripada melafalkan
songennep. selian itu perubahan nama juga untuk menanamkan pengaruh kekuasaan
belanda terhadap masyarakat sumenep, sama seperti perubahan nama jayakarta
menjadi batavia.
arti kata
dilihat dari arti katanya, songennep adalah nama asal pada
masa kuno. songennep menurut arti etimologis (asal-usul kata), yaitu :song
berarti relung, geronggang (bahasa kawi), ennep berarti mengendap (tenang).
jadi, songennep berarti lembah bekas endapan yang tenang. selain itu ada juga yang
mengartiikan bahwa song berarti sejuk, rindang, payung. ennep berarti mengendap
(tenang). jadi, songennep berarti lembah endapan yang sejuk dan rindang.
arti yang kata lainnya juga menyebutkan bahwa song berarti relung atau
cekungan. ennep berarti tenang. jadi, songennep berarti lembah, cekungan yang
tenang atau sama dengan pelabuhan yang tenang. dalam masyarakat sumenep sendiri
juga berkembang pengartian songennep dibagi
menjadimoso ngenep.moso dalam bahasa madura berarti lawan atau musuh,
ngenep berarti bermalam. jadi, songennep berarti lawan atau musuh menginap atau
bermalam. cerita mengenai asal-usul nama “songennep” berdasarkan versi ini
sangat popular di lingkungan masyarakat sumenep
.
cerita atau pendapat ini dihubungkan dengan suatu peristiwa
bersejarah di sumenep tahun 1750, yaitu saat diserangnya dan didudukinya
keraton sumenep oleh ke lesap yang berhasil menaklukkan sumenep dan selama 1/2
bulan tinggal di keraton sumenep. karena peristiwa tersebut, maka dinamakan
moso ngenep yang artinya musuh bermalam.
meski demikian, pengartian moso nginep dinilai tidak benar,
sebab kitab pararaton yang ditulis tahun 1475-1485 sudah menuliskan nama
songennep. ini berarti nama songennep sudah lahir sebelum ke lesap menyerang
sumenep.
kitab itu menyatakan bahwa, songennep berasal dari kata-kata ingsun
ngenep.ingsun artinya saya, sedangkan nginep artinya bermalam. jadi songennep
berarti saya bermalam. pendapat ini kurang popular di kalangan rakyat
dibandingkan dengan versi lainnya. ada orang yang menghubungkan dengan
peristiwa ini dengan kejadian 700 tahunyang lalu, ketika raden wijaya mengungsi
ke madura akibat dikejar-kejar jayakatwang.
kadipaten sumenep
saat itu kadipaten sumenep berada dibawah kekuasaan kerajaan
singosari, dengan penguasanya raja kertanegara. dengan demikian arya wiraraja
dilantik oleh raja kertanegara, sehingga sumber prasasti yang berhubungan
dengan raja kertanegara dijadikan rujukan bagi penetapan hari jadi kabupaten.
sumber prasasti yang dapat dijadikan sebagai rujukan adalah prasasti antara lain,
prasasti mua manurung dari raja wisnuwardhana berangkat tahun 1255 m, prasasti
kranggan (sengguruh) dari raja kertanegara berangkat tahun 1356 m, prasasti
pakis wetan dari raja kertanegara berangkat tahun 1267 m, prasasti sarwadharma
dari raja kertanegara berangkat tahun 1269 m. sedangkan sumber naskah
(manuskrip) yang digunakan untuk menelusuri lebih lanjut tokoh arya wiraraja,
antara lain naskah nagakertagama karya rakawi prapanca pada tahun 1365 m,
naskah peraraton di tulis ulang tahun 1631 m, kidung harsa wijaya, kidung
ranggalawe, kidung pamancangan, kidung panji wijayakramah, kidung sorandaka.
dari sumber sejarah tersebut, maka sumber sejarah prasasti sarwadharma yang
lengkapnya berangkat tahun 31 oktober 1269 m, merupakan sejarah yang sangat
signifikan dan jelas menyebutkan bahwa saat itu raja kertanegara telah menjadi
raja singosari yang berdaulat penuh dan berhak mengangkat seorang adipati.
prasasti sarwadharma dari raja kertanegara di desa penampihan
lereng barat gunung wilis kediri. prasasti ini tidak lagi menyebut perkataan
makamanggalya atau dibawah pengawasan. artinya saat itu raja kertanegara telah
berkuasa penuh, dan tidak lagi dibawah pengawasan ayahandanya raja
wisnuwardhana telah meninggal tahun 1268 m.
prasasti sarwadharma berisi penetapan daerah menjadi daerah
suatantra (berhak mengurus dirinya sendiri) dan lepas dari pengawasan wilayah
thani bala (nama wilayah/daerah saat itu di singosari). sehingga daerah
swatantra tersebut, yaitu daerah sang hyang sarwadharma tidak lagi diwajibkan
membayar bermacam-macam pajak, pungutan dan iuran
.
atas dasar fakta sejarah ini maka pelantikan arya wiraraja
ditetapkan tanggal 31 oktober 1269 m, dan peristiwa itu dijadikan rujukan yang
sangat kuat untuk menetapkan hari jadi kabupaten sumenep pada tanggal 31
oktober 1269 m, yang diperingati pada setiap tahun dengan berbagai macam
peristiwa seni budaya, seperti prosesi arya wiraraja dan rekan seni budaya hari
jadi kabupaten sumenep.
selayang pandang sejarah sumenep
pengantar
sejarah sumenep jaman dahulu diperintah oleh seorang raja. ada 35 raja yang
telah memimpin kerajaan sumenep. dan, sekarang ini telah dipimpin oleh seorang
bupati. ada 14 bupati yang memerintah kabupaten sumenep. mengingat sangat
keringnya informasi/data yang otentik seperti prasati, pararaton, dan
sebagainya mengenai raja sumenep maka tidak seluruh raja-raja tersebut kami
ekspose satu persatu, kecuali hanya raja-raja yang menonjol saja
popularitasnya.
pendekatan yang kami gunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan historis dan
kultural, selain itu kami gunakan juga pendekatan ekonomis, psikologis dan
edukatif.
jaman pemerintah kerajaan arya wiraraja
arya wiraja dilatik sebagai adipati pertama sumenep pada tanggal 31 oktober
1269, yang sekaligus bertepatan dengan hari jadi kabupaten sumenep. selama
dipimpin oleh arya wiraja, banyak kemajuan yang dialami kerajaan sumenep. pria
yang berasal dari desa nangka jawa timur ini memiliki pribadi dan
kecakapan/kemampuan yang baik. arya wiraja secara umum dikenal sebagai seorang
pakar dalam ilmu penasehat/pengatur strategi, analisanya cukup tajam dan
terarah sehingga banyak yang mengira arya wiraja adalah seorang dukun.
adapun jasa-jasa arya wiraja :
– mendirikan majapahit b ersama dengan raden wijaya.
– menghancurkan tentara cina/tartar serta mengusirnya dari tanah jawa.
dalam usia 35 tahun, karier arya wiraja cepat menanjak. mulai jabatan demang
kerajaan singosari kemudian dipromosikan oleh kartanegara raja singosari
menjadi adipati kerajaan sumenep, kemudian dipromosikan oleh raden wijaya
menjadi rakyan menteri di kerajaan majapahit dan bertugas di lumajang. setelah
arya wiraja meninggalkan sumenep, kerajaan di ujung timur madura itu mengalami
kemunduran. kekuasaan diserahkan kepada saudaranya arya bangah dan keratonnya
pindah dari batuputih ke banasare di wilayah sumenep juga. selanjutnya diganti
oleh anaknya, yang bernama arya danurwendo, yang keratonnya pindah ke desa
tanjung. dan selanjutnya diganti oleh anaknya, yang bernama arya asparati.
diganti pula oleh anaknya bernama panembahan djoharsari.
selanjutnya kekuasaan dipindahkan kepada anaknya bernama panembahan mandaraja,
yang mempunyai 2 anak bernama pangeran bukabu yang kemudian menganti ayahnya
dan pindah ke keratonnya di bukabu (kecamatan ambunten). selanjutnya diganti
oleh adiknya bernama pangeran baragung yang kemudian pindah ke desa baragung
(kecamatan guluk-guluk).
pangeran jokotole (pangeran secodiningrat iii)
pangeran jokotole menjadi raja sumenep yang ke 13 selama 45 tahun (1415-1460).
jokotole da adiknya bernama jokowedi lahir dari raden ayu potre koneng, cicit
dari pangeran bukabu sebagai hasil dari perkawinan bathin (melalui mimpi)
dengan adipoday (raja sumenep ke 12). karena hasil dari perkawinan bathin
itulah, maka banyak orang yang tidak percaya. dan akhirnya, seolah-olah
terkesan sebagai kehamilan diluar nikah. akhirnya menimbulkan kemarahan kedua
orang tuanya, sampai akan dihukum mati. sejak kehamilannya, banyak terjadi
hal-hal yang aneh dan diluar dugaan. karena takut kepada orang tuanya maka
kelahiran bayi ra potre koneng langsung diletakkan di hutan oleh dayangya. dan,
ditemukan oleh empu kelleng yang kemudian disusui oleh kerbau miliknya.
peristiwa kelahiran jokotole, terulang lagi oleh adiknya yaitu jokowedi.
kesaktian jokotole mulai terlihat pada usia 6 tahun lebih, seperti membuat
alat-alat perkakas dengan tanpa bantuan dari alat apapun hanya dari badanya
sendiri, yang hasilnya lebih bagus ketimbang ayah angkatnya sendiri. lewat
kesaktiannya itulah maka ia membantu para pekerja pandai besi yang kelelahan
dan sakit akibat kepanasan termasuk ayah angkatnya dalam pengelasan membuat
pintu gerbang raksasa atas pehendak brawijaya vii. dengan cara membakar dirinya
dan kemudian menjadi arang itulah kemudian lewat pusarnya keluar cairan putih.
cairan putih tersebut untuk keperluan pengelasan pintu raksasa. dan, akhirnya
ia diberi hadiah emas dan uang logam seberat badannya. akhirnya ia mengabdi di
kerajaan majapahit untuk beberapa lama.
banyak kesuksessan yang ia raih selama mengadi di kerajaan majapahit tersebut
yang sekaligus menjadi mantu dari patih muda majapahit. setibanya dari sumenep
ia bersama istrinya bernama dewi ratnadi bersua ke keraton yang akhirnya
bertemu dengan ibunya ra potre koneng dan kemudian dilantik menjadi raja
sumenep dengan gelar pangeran secodiningrat iii. saat menjadi raja ia terlibat
pertempuran besar melawan raja dari bali yaitu dampo awang, yang akhirnya
dimenangkan oleh raja jokotole dengan kesaktiannya menghancurkan kesaktiannya
dampo awang. dan kemudian kekuasaannya berakhir pada tahun 1460 dan kemudian
digantikan oleh arya wigananda putra pertama dari jokotole.
raden ayu tirtonegoro dan bindara saod
raden ayu tirtonegoro merupakan satu-satunya pemimpin wanita dalam sejarah
kerajaan sumenep sebagai kepala pemerintahan yang ke 30. menurut hikayat ra
tirtonegoro pada suatu malam bermimipi supaya ratu kawin dengan bindara saod.
setelah bindara saod dipanggil, diceritakanlah mimpi itu. setelah ada kata
sepakat perkawinan dilaksanakan, bindara saodmenjadi suami ratu dengan gelar
tumenggung tirtonegoro.
terjadi peristiwa tragis pama masa pemerintahan ratu tirtonegoro. raden
purwonegoro patih kerajaan sumenep waktu mencintai ratu tirtonegoro, sehingga
sangat membenci bindara saod, bahkan merencanakan membunuhnya. raden
purwonegoro datang ke keraton lalu mengayunkan pedang namun tidak mengenai
sasaran dan pedang tertancap dalam ke tiang pendopo. malah sebaliknya raden
purwonegoro tewas di tangan manteri sawunggaling dan kyai sanggatarona. seperti
diketahui bahwa ratu tirtonegoro dan purwonegoro sama-sama keturunan tumenggung
yudonegoro raja sumenep ke 23.
akibatnya keluarga kerajaan sumenep menjadi dua golongan yang berpihak pada
ratu tirtonegoro diperbolehkan tetap tinggal di sumenep dan diwajibkan merubah
gelarnya dengan sebutan kyai serta berjanji untuk tidak akan menentang bindara
saod sampai tujuh turunan. sedang golongan yang tidak setuju pada ketentuan
tersebut dianjurkan meninggalkan kerajaan sumenep dan kembali ke pamekasan,
sampang atau bangkalan.
panembahan somala
bandara saod dengan isterinya yang pertama di batu ampar mempunyai 2 orang
anak. pada saat kedua anak bindara saod itu datang ke keraton memenuhi
panggilan ratu tirtonegoro, anak yang kedua yang bernama somala terlebih dahulu
dalam menyungkem kepada ratu sedangkan kakaknya mendahulukan menyungkem kepada
ayahnya (bindara saod). saat itu pula keluar wasiat sang ratu yang dicatat oleh
sektretaris kerajaan. isi wasiat menyatakan bahwa di kelak kemudian hari
apabila bindara saod meninggal maka yang diperkenankan untuk mengganti menjadi
raja sumenep adalah somala. setelah bindara saod meninggal 8 hari kemudian ratu
tirtonegoro ikut meninggal tahun 1762, sesuai dengan wasiat ratu yang menjadi
raja sumenep adalah somala dengan gelar panembahan notokusumo i.
beberapa peristiwa penting pada zaman pemerintahan somala antara lain menyerang
negeri blambangan dan berhasil menang sehingga blambangan dan panarukan menjadi
wilayah kekuasaan panembangan notokusumo i. kemudian beliau membangun keraton
sumenep yang sekarang berfungsi sebagai pendopo kabupaten. selanjutnya beliau
membangun masjid jamik pada tahuhn 1763, asta tinggi (tempat pemakaman
raja-raja sumenep dan keluarganya) juga dibangun oleh beliau.
sultan abdurrachman pakunataningrat
sultan abdurrachman pakunataningrat bernama asli notonegoro putra dari raja
sumenep yaitu panembahan notokusumo i. sultan abdurrachman pakunataningrat
mendapat gelar doktor kesusastraan dari pemerintah inggris, karena beliau
pernah membantu letnan gubernur jendral raffles untuk menterjemahkan
tulisan-tulisan kuno di batu kedalam bahasa melayu. beliau memang meguasai
berbagai bahasa, seperti bahasa sansekerta, bahasa kawi, dan sebagainya. dan,
juga ilmu pengetahuan dan agama. disamping itu pandai membuat senjata keris.
sultan abdurrachman pakunataningrat dikenal sangat bijaksana dan memperhatikan
rakyat sumenep, oleh karena itu ia sangat disegani dan dijunjung tinggi oleh
rakyat sumenep sampai sekarang.
masjid jamik sumenep
masjid yang bagi masyarakat madura ini sangat membikan nilai monomintal
terhadap kondisi sepanjang zaman ini menghadap ke taman kota, yang berada di
sebelah timurnya. dengan gerbang besar, pintu kayu kuno, yang berdiri kokoh
menghadap matahari terbit. masjid agung sumenep, yang dulu dikenal dengan nama
masjid jami’, terletak ditengah-tengah kota sumenep.
masjid ini dibangun setelah pembangunan kraton sumenep, sebagai inisiatif dari
adipati sumenep, pangeran natakusuma i alias panembahan somala (1762-1811 m).
adipati yang memiliki nama asli aria asirudin natakusuma ini, sengaja
mendirikan masjid yang lebih besar. setelah sebelumnya dibangun masjid, yang
dikenal dengan nama masjid laju, oleh pangeran anggadipa (adipati sumenep,
1626-1644 m). dalam perkembangannya, masjid laju tidak mampu lagi menampung
jemaah yang kian banyak.
setelah keraton selesai pembangunannya, pangeran natakusuma i memerintahkan
arsitek yang juga membangun keraton, lauw piango, untuk membangun masjid jami’.
berdasar catatan di buku sejarah sumenep (2003) diketahui, lauw piango adalah
cucu dari lauw khun thing yang merupakan satu dari enam orang china yang
mula-mula datang dan menetap di sumenep. ia diperkirakan pelarian dari semarang
akibat adanya perang yang disebut ’huru-hara tionghwa’ (1740 m).
masjid jami’ dimulai pembangunannya tahun 1198 h (1779 m) dan
selesai pada tahun 1206 h (1787 m). terhadap masjid ini pangeran natakusuma
berwasiat yang ditulis pada tahun 1806 m, bunyinya sebagai berikut;
”masjid ini adalah baitullah, berwasiat pangeran natakusuma
penguasa di negeri/keraton sumenep. sesungguhnya wasiatku kepada orang yang
memerintah (selaku penguasa) dan menegakkan kebaikan. jika terdapat masjid ini
sesudahku (keadaan) aib, maka perbaiki. karena sesungguhnya masjid ini wakaf,
tidak boleh diwariskan, dan tidak boleh dijual, dan tidak boleh dirusak.”
dari tinjauan arsitektural, memang banyak hal yang khas pada bangunan yang
menjadi pusat kegiatan masyarakat islam di kabupaten paling timur pulau garam
ini. memperhatikan fisik bangunan, layaknya menganut eklektisme kultur desain.
masjid jami’ sumenep dari bentuk bangunannya bisa dikata merupakan penggabungan
berbagai unsur budaya. mungkin pula sebagai bentuk akomodasi dari budaya yang
berkembang di masyarakatnya. pada masa pembangunannya hidup berbaur berbagai
etnis masyarakat yang saling memberikan pengaruh.
yang menarik lagi, bukan hanya kolaborasi gaya arsitektur lokal. tetapi lebih
luas, yaitu antara arsitektur arab, persia, jawa, india, dan cina menjadi satu
di bangunan yang istimewa ini. mungkin pula berbagai etnis yang tinggal dan
hidup di madura lebih banyak lagi, sehingga membentuk struktur bangunan lengkap
dengan ornamen yang menghias bangunan ini secara keseluruhan.
kubah kecil di puncak bangunan yang ada di sudut kanan-kiri halaman masjid,
sangat mungkin mewakili arsitektur arab-persia. penerapannya tidak semata-mata,
terdapat sejumlah modifikasi yang berkembang seiring dengan kebutuhan
masyarakat setempat.
ornamen yang kemudian dipertegas dengan warna-warna menyala, menggambarkan
corak bangunan dari gujarat-cina. semakin kental atmosfirnya ketika berada di
bagian dalam bangunan utama. memperhatikan mihrab masjid yang berusia 799 tahun
ini, pada mimbar khotbah, hingga ornamen seperti keramik yang menghiasi
dindingnya.
bangunan bersusun dengan puncak bagian atas menjulang tinggi mengingatkan
bentuk-bentuk candi yang menjadi warisan masyarakat jawa. kubah berbentuk tajuk
juga merupakan kekayaan alami pada desain masyarakat jawa.
struktur bangunan secara keseluruhan menggambarkan tatanan kehidupan masyarakat
yang rumit di saat itu. jalinan hubungan antaretnik yang hidup di madura dapat
disaksikan dari bangunan utuh dari sosok masjid agung sumenep ini.
pada bagian depan, dengan pintu gerbang yang seperti gapura besar, beberapa
orang berpendapat juga menampakkan adanya corak kebudayaan portugis. konon,
masjid agung sumenep merupakan salah satu dari sepuluh masjid tertua di
indonesia dengan corak arsitektur yang khas.
perkembangan islam di tanah jawa, pula menjadi bagian dinamika kehidupan
masyarakat madura. perkembangan ajaran islam di pulau madura, tak dapat
dipisahkan dari perkembangan dan pergumulan masyarakat jawa yang secara
gegrafis terpisah dengan selat madura. perkembangan islam di ampel dan giri
menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat madura. pada jamannya, tugas
dakwah yang diemban para wali meliputi seluruh daerah, termasuk jawa dan madura.
dalam perkembangan islam di madura tak lepas dari para pedagang yang datang
dari gujarat (india) serta para perantau yang berasal dari jazirah arab. mereka
yang berhasil mendarat di madura juga memberi kontribusi akibat interaksi, baik
budaya maupun tata kehidupan.
model akulturasi budaya yang ada di masa silam, secara jelas masih bisa
dinikmati sekarang. yaitu dengan melihat kekayaan detil arsitektural yang ada
di masjid jami’ sumenep. walaupun pada sekitar tahun 90-an masjid ini mengalami
pengembangan, dengan renovasi pada pelataran depan, kanan dan kirinya. namun
demikian tidak mengurangi eksotismenya hingga sekarang
sejarah sumenep ikon jerajaan islam di madura
bak potret raksasa dalam sebuah bingkai histori. bangunan
megah berdiri dengan nuansa yang khas menyiratkan peninggalan masa silam.
berdiri di kawasan seluas 12 hektar, di tengahnya terdapat pendopo agung dengan
ornamen khas berlatar bangunan tua yang tak kalah gagah memancarkan kharisma.
sebatang pohon beringin besar berdiri di samping kirinya, menambah kokoh dan
sakral nuansa yang terpancar dari warisan para raja yang dulu pernah berkuasa.
walau kini keraton sumenep tidak lagi dihuni seorang raja beserta keluarga dan
para abdinya. namun bangunan yang berumur lebih dari 200 tahun itu tetap terjaga.
sumenep setelah berubah secara birokrasi dan mulai dipimpin oleh seorang bupati
setelah masa raja panembahan notokusumo ii (1854-1879) menganggap warisan sisa
masa keemasan itu sebagai sebuah kekayaan sejarah yang tak ternilai harganya.
bangunan-bangunan di kawasan keraton sudah tidak ditempati lagi. kecuali pada
bagian belakang, menghadap ke utara, yang kemudian dibangun rumah dinas bupati,
berlawanan dengan keraton. sementara pendopo kini kerap difungsikan untuk acara
rapat-rapat para aparat pemerintahan, hingga pagelaran seni dan budaya
setempat.
bangunan fisik keraton sumenep terbilang masih asli. hanya bagian lantai yang
telah dirubah karena rusak. semula berlantai marmer kini keramik. terhadap
bangunan keraton sendiri yang usianya lebih dari dua abad pernah dilakukan
perbaikan namun hanya pada bagian gentingnya. selain itu pengecatan tetap
dilakukan pada bagian dinding agar tetap kelihatan cerah.
bangunan utama keraton terdiri dari dua lantai. “lantai atas merupakan tempat
para putri raja yang dipingit selama 40 hari sebelum datangnya hari
pernikahan,” papar moh. romli, penanggung jawab museum keraton sumenep. menurut
pria 40 tahun ini, bangunan kediaman raja yang terletak di lantai bawah
terdapat empat kamar yang masing-masing diperuntukkan untuk kamar pribadi raja,
kamar permaisuri, kamar orang tua pria dan orang tua perempuan raja.
secara umum gaya arsitektural keraton sumenep merupakan
perpaduan antara gaya arsitektur eropa, arab, dan china. gaya eropa tampak pada
pilar-pilar dan lekuk ornamennya. sedangkan gaya china bisa dilihat pada
ukiran-ukiran yang menghiasi. detil ukiran bergambar burung hong, yang konon
merupakan lambang kemegahan yang disakralkan oleh bangsa china. ada pula naga
yang melambangkan keperkasaan, beberapa bergambar bunga delima yang
melambangkan kesuburan. demikian pula pada pilihan warna merah dan hijau.
salah seorang arsitek pembangunan keraton bernama lauw piango, yang setelah
meninggal di kebumikan di sekitar asta tinggi (komplek makam raja sumenep dan
keturunannya) adalah pria berkebangsaan china. bahkan konon yang mengepalai
tukang saat pembangunan keraton adalah orang china, bernama ka seng an. nama
itu kemudian dijadikan nama desa dimana dia dulunya tinggal, menjadi desa
kasengan.
dalam sejarah sumenep disebutkan keraton tempat kediaman raja sempat
berpindah-pindah. konon pada masa awal yang dipimpin oleh raja aria wiraraja,
yang berasal dari singosari, keraton sumenep berada di desa banasare, kecamatan
rubaru. lalu keraton juga pernah pindah ke daerah dungkek pada masa raja
jokotole (1415-1460).
beberapa daerah lain juga diindikasi sebagai keraton sumenep, seperti tanjung,
keles, bukabu, baragung, kepanjin dan daerah lain sebelum akhirnya menempati
lokasi keraton yang masih tersisa sekarang. di desa pajagalan yang merupakan
warisan sejak raja, yaitu panembahan somala dan enam raja berikutnya.
panembahan somala berinisiatif membangun katemenggungan atau kadipaten ini
setelah selesai perang dengan blambangan, pada tahun 1198 hijriyah. keraton itu
selesai pada tahun 1200 hijriyah atau 1780 masehi.
batas-batas keraton pada jaman dahulu meliputi, sisi timur adalah taman lake’,
ini menurut romli, masih merupakan anak sumber air dari taman sare yang berada
di sekitar keraton. sayang, tempat ini sekarang sudah ditutup karena difungsikan
sebagai sumber air pdam sumenep. sebelah utara hingga monumen tembok keraton
yang ada di jalan panglima sudirman sekarang. dan sisi barat hingga bagian
belakang masjid agung (jami’) sumenep sekarang.
menurut cerita, sebelum dibangun masjid jami’, sudah ada masjid yang dibangun
oleh raja pangeran anggadipa (1626-1644 m). letaknya di sebelah utara keraton.
namanya masjid laju, laju dalam bahasa indonesia berarti lama. masjid jami’
sebelumnya merupakan masjid keraton yang eksklusif untuk raja dan kalangan
kerajaan. tepat di depan masjid terdapat alun-alun keraton. sekarang sudah
di-redesign menjadi taman bunga kota sumenep. sementara batas selatan hingga di
belakang museum.
pagar keraton yang ada sekarang adalah peninggalan masa r. tumenggung aria
prabuwinata. sebelum diganti dengan bilah besi yang berujung mata tombak itu,
pagar keraton berupa tembok tebal setinggi lebih dari dua meter. hal ini
terbukti dari sisa pagar yang hingga kini masih ada di belakang keraton, tepat
di depan rumah dinas bupati sekarang. sisa pagar itu kini dijaga sebagai
monumen bukti sejarah keraton sumenep.
bangunan yang dipakai kantor dinas pariwisata dan kebudayaan itu sebenarnya
bukan bagian dari keraton, dulu dikenal dengan sebutan gedong negeri, walau ada
di lingkungan keraton sumenep. bangunan bergaya eropa ini didirikan sekitar
tahun 1931, pada jaman pendudukan belanda di tanah air. kehadiran gedung tepat
di depan keraton itu memang mengganggu kharisma keraton secara keseluruhan.
pandangan kearah keraton sumenep menjadi terhalang.-az.alim
taman sare dan labang mesem
saat ini di sekitar keraton terdapat tiga bangunan yang
difungsikan sebagai museum. satu di depan keraton atau yang berseberangan
dengan kantor dinas pariwisata dan kebudayaan kab. sumenep. bangunan museum
yang berdiri di bagian selatan keraton itu, sebelumnya merupakan garasi kereta
kencana kerajaan.
sekarang menjadi tempat koleksi kereta kencana dan beberapa benda bersejarah
lain seperti kursi pertemuan, tempat tidur raja, kursi pengadilan pada jaman
raja, serta beberapa foto raja. kereta kencana yang dipajang di sana kabarnya
merupakan hadiah dari kerajaan inggris, sebagai balas jasa.
konon bantuan yang diberikan raja sultan abdurrahman adalah mengalihbahasakan
sebuah prasasti dengan tulisan sansekerta kuno, yang ditemukan pada masa
raffles. “kereta kencana itu bernama my lord, namun karena lidah orang madura
saat itu kurang bisa melafalkan. maka, kereta raja itu kemudian lebih dikenal
dengan nama melor,” urai moh. romli, sumber yang dijumpai eartjava traveler.
satu lagi di sisi barat keraton, dulu bekas kantor raja atau yang biasa disebut
dengan kantor koneng. dahulu bangunan ini dipakai oleh raja dan para bawahannya
melakukan pertemuan. belanda kemudian menduga gedung itu sebagai pusat rencana
gerakan perlawanan.
belanda menganggap sumenep, kala itu, tidak tepat memiliki kantor raja karena
statusnya hanya kadipaten. namun raja sumenep tidak kalah akal, beliau menolak
sebutan kantor raja. sang adipati berkelit, bahwa itu adalah kantor koneng
(koneng dalam bahasa madura berarti kuning), karena seluruh temboknya diwarnai
kuning. museum yang satu lagi di sebelah utara kantor koneng ini, bangunan
berbentuk rumah tinggal. konon rumah ini dipakai raja untuk menyepi, karenanya
rumah itu disebut dengan romah panyepen.
tepat di depan sisi kiri museum selatan terdapat bangunan kecil, semacam pos
penjaga. orang-orang dulu menyebutnya loji. memang benar, bangunan kecil ini
merupakan pos penjaga keraton, karena itu dilengkapi dengan lonceng. loji juga
ada di sebelah timur keraton, tak jauh dari pintu masuk ke taman sare. dulu,
bila raja kedatangan tamu, penjaga di loji depan akan memberi isyarat dengan
membunyikan lonceng. bila pihak kerajaan sudah siap menerima, maka penjaga di
loji dalam akan ganti membunyikan lonceng dengan isyarat tertentu.
di sebelah timur lingkungan keraton terdapat kolam pemandian yang dikenal
dengan nama taman sare. nama taman sare berasal dari kata dalam bahasa madura,
taman dalam bahasa indonesia berarti kolam, dan sare/asreh yang berarti asri,
indah atau menyenangkan. menurut cerita beberapa orang, air di taman sare ini
juga mempunyai khasiat menjadikan orang awet muda.
labang mesem
labang mesem merupakan sebutan untuk gerbang keraton yang
letaknya tidak jauh dari taman sare. dalam bahasa indonesia, labang berarti
pintu, dan mesem berarti senyum. dari sekian versi tentang asal usul nama
labang mesem, akhirnya disimpulkan, bahwa nama labang mesem merupakan symbol.
perlambang atas sikap keramah-tamahan dan penuh senyum dari para raja dan
seluruh orang keraton dalam menerima tamu.
setidaknya ada tiga versi yang melatari pemberian nama labang mesem. pertama,
pada jaman dahulu pintu gerbang menuju keraton itu dijaga oleh dua orang cebol.
hal ini bisa dilihat dari dua ruangan dengan pintu rendah di kanan dan kiri
gerbang itu. menguatkan bukti itu, di makam asta tinggi terdapat
kuburan-kuburan cebol. karena yang menjaga orang dengan bentuk kecil, maka tak
heran bila sering menghadirkan senyum orang-orang yang melintas di gerbang
tersebut.
versi kedua menyebutkan, ruang terbuka yang berada di atas pintu gerbang
tersebut merupakan tempat raja untuk mengawasi sekitar keraton. juga mengawasi
putri-putri dan para istrinya yang sedang mandi di taman sare. konon ketika
sedang memperhatikan putri dan atau istrinya yang sedang mandi itu, raja tampak
mesam-mesem. sebab itulah kemudian gerbang itu disebut labang mesem.
sedang versi yang lain, menyebutkan suatu ketika keraton sumenep berhasil
memukul mundur pasukan dari kerajaan bali. menyisakan dendam, raja bali
bermaksud menuntut balas. maka mereka pun datang ke sumenep beserta bala
tentaranya. namun siapa sangka, ketika mereka sudah sampai di depan gerbang
keraton amarah yang diselimuti dendam berubah. menjadi senyum ramah dan penuh
persahabatan. kabarnya, hal itu merupakan akibat terkabulnya doa raja kepada
tuhan yang maha esa. merubah api dendam menjadi air persaudaraan.
masih banyak kekayaan sejarah yang bisa dinikmati di keraton ini. tak cukup
tulisan dan foto untuk mengungkap semuanya. cara paling tepat untuk memuaskan
penasaran hati, hanya dengan datang dan menikmati setiap keping mozaik warisan
sejarah negeri ini dengan mata kepala sendiri.-az.alim
bagaimana mencapai keraton?
sangat mudah mencapai keraton sumenep, karena letaknya sekitar 200 meter arah
timur dari taman bunga di pusat kota sumenep. demikian halnya untuk sampai ke
pusat kota kabupaten paling timur di pulau madura ini. bila berangkat dari
surabaya, pusat propinsi jatim, dengan kendaraan pribadi butuh waktu sekitar 4
jam perjalanan.nama sumenep, salah satu versinya berasal dari kata
songenep. dalam bahasa madura, songenep merupakan gabungan dari kata lesso dan
nginep. dalam bahasa indonesia, lesso berarti capek atau lelah, dan nginep
berarti bermalam. jadi, setelah kita melakukan perjalanan menuju kita ini
dianjurkan bermalam. setidaknya demikian agar keesokan harinya anda bisa
menikmati kekayaan dan keindahan potensi wisata di daerah ini dengan lebih
leluasa. obyek-obyek seperti pantai slopeng, pantai lombang, makam raja asta
tinggi, dan yang lainnya bisa menjadi jujukan wisata anda.-az.alim
aeng soca
manabi mereng, ngoladi bannya` aeng se agili dhari mata. sae
matana oreng otaba keban. ampon daddi barang se kappra otaba pon lumra e
kopeng. aeng gapaneka agili naleka seddhi, ngennes otaba talebat perak. ta`
coma na`-kana`, dhat-ngudhadan jugan oreng se ampon seppo. ban dhalem basa
madura, ka`dhinto gadhuwan arte basa alossepon dhari mata se eangguy monggu
dha`oreng se -eanggep- lebbi molja otaba dha` ka oreng se patot ehormat.
bida sareng se settong gapaneka. soca eka`dhinto ta` gadhuwan
arte mata se serreng eguna`agi ka oreng pole. anangeng gadhuwan arte matana se
badha e bukona perreng. molae dhari bungkella sampe` pangonco`anna. melana pas
badha ca`-oca` ’nyoca’ kalaban maksod muwang otaba aberrse`e socana perreng. ta`
oneng dhari ponapa, ma` sampe ngangguy oca` soca ka perreng. tape se jellas ta`
amaksod abasa ka ju-kajuwan, ka`-bungka`an otaba keban. akadi oca` ’sera’ se
samastena eguna`agi ka oreng se –eanggep- lebbi molja kalaban arte laen oca`na
‘cethak’ ban en-laenna.
jugan aeng soca, gadhuwan dhuwa` arte. eantarana agandhu` arte aeng matana
oreng, jugan bukona perreng. akadi aeng se kalowar dhari socana perreng
ka`dhinto. perreng sakerreng se sabban soca bunnek otaba patthogga nyapcap.
aeng paneka badha e disa pangarangan kacamadan kottha songennep.
ta` gun coma reng-oreng se badha e songennep, nangeng jugan
berta ka`dhinto ampon kalonta ka lowar songennep ja` perreng ampon bannya`
kasebbut kalaban sebbudan aeng soca oataba dhalem basa indonesia ekoca` bambu
menangis (perreng nanges). sabab, sakerreng perreng ka`dhinto e ban-sabban
bukona nyapcap aeng.
salaen dhari gapaneka, aeng se kalowar dhari perreng
ka`dhinto apeguna kaangguy tatambana panyake`. reng-oreng se mondut aeng paneka
ta` coma dhari songennnep dibi`, nangeng jugan badha se adhatengngan dhari
jember, situbondo, bondowoso tor tha-kottha se laen. sabab kalaban alasan,
ampon bannya` se kabukte ja` aeng soca ka`dhinto gadhuwan hasiyat mabaras
panyake` se eadhebbi reng-oreng. mon gi` kaadha`na, ta` korang dhari 100 oreng
se dhateng sabban arena ka aeng soca ka`dhinto kaangguy mondut aeng se kalowar
dhari perreng sakerreng gapaneka. reng-oreng se dhateng mondut aeng soca
bannya` se kalaban rida` nyabbur obang ka kothak amal se esadhiya`agi. obang
ganeka kaangguy pambangunan nyoppre serdhangngepon kennengngan ka`dhinto.
salaen dhari gapaneka, e semma`na perreng sakerreng neka
jugan badha 17 (pettobellas) makam utama para sayyid (syd.), syarifah (srf.)
tor radin aju (ra). eantarana syd. hasbullah (buju` mustajab), syd. abdullah,
syd. abdul anam, syd. husin, syd. abdul muthollib, srf. rafiqah, srf. muzairah,
std. zubairi (agung perang jaksa), ra. djatima (arjuna putri), ra. singaraja
mawarni, buju` embah tini. k. moh. djala, buju` embah tina, srf. siti aminah,
syd. ubaidillah, syd. abidillah, srf. obudiyah. salen dhari pan-saponapa`an
makam otaba asta gapaneka e penggiranna bannya makam-makam se laen. sabab e
kennengngan ka`shinto aropa`agi makam umum. dhari pettobellas makan gapaneka,
kennengnganna ta` jau dhari aeng soca ganeka. empa` eantarana badha e teppa` e
bara` perrengnga, sapolona badha e mongging temorra ban se tatello` badha bara`
lao`na.
aeng soca ka`dhinto badha e temorrepon pondhuk al-azhar
songennep otaba mongging bara`na pondhuk mathali’ul anwar, yayasan abdullah.
manabi badhi nojju ka kennengngan ka`dhinto, langkong gampang lebat jalan
kartini, terros lebat e temorra pondhuk al-azhar pas dha` temor sakone` otaba
lebat jalan hp. kusuma pas dha` temor ka jalan kurma pangarangan. somber se
kalowar dhari perreng se ampon daddi tojjuwanna bannya` oreng paneka buru
etemmo tanggal 04 bulan desember 2007 m se tapongkor.
nangeng, saamponna saponapa bulan perreng ka`dhinto ta’
nyapcap aeng pole akadi asallepon. bisa daddi polana mosem nemor tor bungkana
perrengnga epoger kare patthogga otaba kare gennogga.
èpaongga dari: bhâb lalampan
sumber: https://surieyorei.wordpress.com/sastra/seputar-madura/sejarah-madura/asal-usul-sumenep/
0 Komentar